Pembentukan Kembali Payudara setelah Operasi Ablasi Keganasan

Tindakan operasi dapat mengerikan bagi sebagian orang. Akan tetapi, pasien dengan kondisi tertentu, misalnya keganasan (tumor) payudara stadium awal, harus menjalani operasi sebagai terapi pilihan. Keganasan payudara adalah jenis keganasan kedua tersering pada kaum wanita setelah keganasan leher rahim. Sayangnya, kebanyakan pasien dengan keganasan payudara di Indonesia mencari pertolongan medis setelah keganasan mencapai stadium lanjut. Dalam kondisi tersebut, penatalaksanaan dilakukan dengan kemoterapi dan radioterapi. Bila keganasan merespon terhadap terapi dan dapat dioperasi, maka tindakan operasi akan dilakukan. Artikel ini akan berfokus pada rehabilitasi pasien setelah operasi ablasi payudara (pembuangan payudara).

Seorang ahli bedah plastik dapat melakukan rekonstruksi payudara langsung setelah ablasi atau setelah beberapa waktu (konstruksi tertunda). Prosedur ini akan memulihkan bentuk fisiologis payudara setelah ablasi dengan menggunakan bahan otolog, implan, atau kombinasi keduanya. Pilihan metode rekonstruksi bergantung pada penilaian sang dokter bedah plastik setelah diskusi dengan pasien. Setelah operasi rekonstruksi, restorasi puting dapat dilakukan bila puting dibuang pada saat ablasi.

Bahan otolog diambil dari tubuh pasien sendiri. Setelah operasi ablasi minimal, hanya sebagian payudara yang dibuang. Karena itu, rekonstruksi payudara dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan payudara yang tersisa atau jaringan otot dan kulit dari punggung pasien. Dalam keadaan di mana dilakukan pembuangan total jaringan payudara, bahan otolog lain dapat digunakan, yaitu lemak dan otot dari perut bagian bawah. Pada pasien dengan berat badan relatif berlebih, metode ini dapat dilakukan secara bebarengan dengan prosedur tummy tuck untuk memperbaiki bentuk perut.

Implan adalah bahan yang dibuat dari silikon, mirip dengan bahan yang digunakan dalam prosedur augmentasi payudara, nose lift, dan lain-lain. Bahan ini relatif inert (tidak bereaksi dengan bahan kimia lain), sehingga aman bagi tubuh.

Walaupun banyak prosedur yang tersedia untuk memperbaik bentuk payudara, banyak pasien di Indonesia yang telah menjalani operasi ablasi tidak menjalani prosedur rekonstruksi. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, salah satunya kondisi sosial ekonomi pasien. Banyak pasien yang masih kesulitan membiayai kemoterapi dan radioterapi, apalagi prosedur rekonstruksi. Faktor lain adalah ketidaktahuan pasien bahwa prosedur tersebut tersedia. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya penjelasan dari pihak tenaga medis, yang sering hanya berfokus pada aspek penyembuhan dan melewatkan aspek kualitas hidup pascaoperasi. Faktor ketiga adalah kurangnya jumlah dokter bedah plastik dibandingkan jumlah populasi Indonesia, yang mencapai lebih dari 200 juta.

Featured Posts
Posts are coming soon
Stay tuned...
Recent Posts