Kedai Kopi dan Pelayanan Kolaboratif Dokter

Kalau penulis sedang ngopi di akhir pekan, selalu ada peluang ngobrol “ngetan ngulon,” seraya memindai sana-sini. Amatan dari sebelah sana dan amatan dari sisi sini di kedai kopi bisa menjadi bahan obrolan, tanpa perlu sampai pada rumpian amit-amit. Amati, cerna cepat dan ringan, dan tidak perlu khawatir matipikir, karena tidak ada target yang yang perlu dipikirkan.

Kedai kopi makin banyak; menjamur, mengambil peluang gaya hidup yang sedang berkembang di kalangan anak muda, profesional, dan generasi mapan ekonomi. Tetapi menjamurnya kedai kopi bukanlah sudut baru arena jualan untuk hidup. Kedai kopi sudah ada sejak lama, bahkan lama sekali; sampai galian memori dan data lokal dan domestik kita dapat mengenali warkop (warung kopi) dan berbagai model kedai kopi dari Aceh hingga berbagai pelosok Nusantara. Kedai kopi atau warkop bukanlah milik satu atau dua kelompok kultur domestik Nusantara. Desa-desa di Betawi, Sunda, Jawa, Bali, Nusatenggara, Kalimantan, Sulawesi sudah memiliki model sosialisasi untuk sekedar ngobrol asal kenal atau meminta pendapat serius dan tukar pikiran. Obrolan bisa disertai cetusan lahir ide, membangun gerakan bersama bersih desa, keamanan desa, dan sebagainya. Selain itu tidak hanya kopi Gayo hingga Toraja, namun di Papua juga terdapat kopi Arabika Baliem dari Wamena atau Amungme dari Timika.1 Walaupun bukan penghasil kopi, sebagian masyarakat di Maluku memiliki kopi rarobang yang memanfaatkan kopi Arabika yang diseduhsiapkan dengan beragam rempah-rempah jahe, cengkeh, kayu manis, sereh.2 Yang berbeda antara kedai kopi di kota-kota urban dan metropolitan dengan di pelosok desa-desa adalah adaptasi pada kemajuan atau lebih tepat pada perubahan. Model bisnis tradisional memang tidak dapat sekedarnya disepelekan dan dianggap kolot dan tertinggal, namun sebaliknya dapat memperoleh sentuhan adaptif pada perkembangan teknologi informasi yang dapat menjangkau setiap jengkal pijakan peradaban manusia di era revolusi industri 4.0.

Walaupun kompleksitasnya kecil, kedai kopi yang dikelola dengan manajemen modern (sesuai ukuran UKM) tetap perlu untuk bersikap adaptif. Kalau Anda mau mengamati, Anda juga bisa sampai pada amatan tentang perubahan adaptif kedai favorit Anda. Pada umumnya kedai yang dipandang sukses adalah kedai yang tidak hanya memanjakan pelanggan yang datang dan menikmati produk jualan sambil menikmati desain sederhana minimalis, cozy, unik, menggelitik dan penuh pernik, namun juga bergantung pada pesanan daring (online). Mereka juga terhubung dengan aplikasi ojol (ojek online). Jadi diversifikasi ojol di bidang pesanan makanan pun termanfaatkan dengan dukungan pelayanan cepat dan memuaskan; bahkan bagi si pekerja ojol versi ojol makanan.

Pesanan pelanggan juga ditangkap melalui aplikasi yang menyediakan akses langsung ke laman atau adminitrasi menejemen pengelola kedai. Nah di titik ini, pengelola kedai juga mau memberi nilai tambah kepada pelanggan yang datang menikmati kopi di kedai secara langsung. Mereka disuguhi tidak hanya pelayanan produk yang bermutu, berukur gizi jelas, memberi pilihan sehat ketat kalori rendah gula, atau longgar kalori rendah gula, longgar kalori longgar gula, atau bahkan yang tidak sehat sama sekali, namun mereka juga diberi akses pesan tanpa antre melalui aplikasi yang tersedia untuk diunduh. Lagi-lagi teknologi program aplikasi yang sangat berkembang ini dapat memperkuat posisi tawar kedai kopi yang adaptif. Adaptif kepada pelanggan yang menggiring penyedia jasa dan produk barang dan konsumsi kopi gaya hidup. Sebelum tiba di kedai, pelanggan telah melakukan pemesanan dan pembayaran secara daring. Segera setelah tiba, pesanan telah siap di meja pengambilan kopi dan kudapan pesanan. Bahkan pesanan tempat duduk dan meja dapat diakses seperti layaknya pendaftaran diri secara daring sebelum terbang dengan pesawat.

Ngomong-ngomong, semoga sajian longgar kalori longgar gula, atau bahkan yang tidak sehat sama sekali hanya diminati anak muda dan orang-orang mapan ekonomi yang tidak mau bergaya hidup sehat. Dan tidak lama lagi dua kategori produk tersebut tidak lagi tersedia.

Ke mana kedai kopi dan warkop yang ada di desa-desa itu mau diarahkan?

Penulis juga tidak tahu bagaimana mengarahkan mereka. Namun, barangkali mereka bisa memanfaatkan keberadaan telepon genggam (walaupun tidak semuanya telepon genggam pintar di desa-desa itu) untuk menjadi sarana menjaring pelanggan melalui penawaran-penawaran inovatif. Mungkin saja upaya ini terkesan utopis karena mudah disanggah oleh kenyataan pasar yang berdaya jangkau sempit di desa-desa itu. Inovasi sehebat apapun tidak akan membuat pertambahan jumlah konsumen karena kedai kopi dan warkop mereka hanya melayani penduduk di desa mereka sendiri. Atau begini: bukan tidak mungkin persaingan antar kedai antar desa bisa membuat sukses salah satu atau salah dua kedai, dan menyurutkan pendapatan kedai-kedai lain. Namun saya percaya Anda pun tidak setuju dengan segmen akhir yang saya tulis tersebut. Persaingan sehat dapat ditumbuhkan karena masing-masing kedai perlu menampilkan unggulan-unggulan inovatif yang terus bergulir. Satu kedai menawarkan pisgor (pisang goreng) rendah lemak jenuh. (Nah loh! Apa pelaku bisnis gurem di desa-desa ada yang tahu? Sebaiknya orang kota tidak meremehkan mereka! Akses digital juga ada pada mereka; lumrah dalam era globalisasi, bukan?) Kedai lain menawarkan paket kopi Arabika gaya saring tetes berbonus dua buah comro (kudapan gorengan khas Sunda yang terbuat dari parutan singkong berisi sambal oncom) rendah lemak jenuh. Warkop desa sebelah menawarkan kopi bertuliskan “house blend” atau racikan Merapi hasil pencampuran kopi Jawa dan arabika dari Manggarai atau dari pojok lain di Nusantara ini. Kedai yang lain lagi menawarkan kupon non-kertas berwujud tulisan di atas daun karet “tambah secangkir kopi untuk pembelian 2 cangkir kopi hitam tanpa gula.” Masa berlaku promosi adalah selama daun karet bertahan warna dan integritasnya. Atau kopi susu segar yang tidak dibuat dari campuran produk susu kental manis yang bukan susu sebenarnya. Dan seterusnya mengikuti ide inovasi Anda semua. Anda bisa menuliskan lanjutannya, bukan?

Sejenak saya tersita oleh keluyuran dan kelayapan pikir saya. Apakah ide edukatif gratis maupun berbayar bisa dikembangkan oleh para pakar gizi klinis? Apakah penggiat gizi klinis bisa ber-webinar dengan datang menawarkan kepakarannya ke unit-unit penyedia aktivitas edukasi dan pelatihan untuk membagikan asuhan edukatif di bidang gizi kepada para pelaku bisnis UKM di area makanan dan kedai kopi, misalnya? Contoh unit termaksud misalnya adalah ICTEC RSCM/ FKUI. Penulis yang kebetulan terkait dengan ICTEC akan menyambut dengan gembira. Apakah selanjutnya para pakar gizi klinis tersebut bisa mengembangkan langkah lanjut dengan pembuatan modul-modul edukatif yang komprehensif untuk topik-topik terpilih? Mungkin mereka bisa berkreasi dengan membuat modul daring “Menu Sehat Mengembangkan Inovasi Sajian Kopi Sehat.”

Mereka bisa juga mengembangkan jasa pelayanan keahlian bersama berbagai kelompok anak muda dan orang tua penggiat usaha startup. Atau mereka mengembangkan aplikasi berlogo kreasi sendiri dalam kelompok inklusif keahlian mereka. Kelanjutan persoalan penyakit akibat salah gizi dapat ditindaklanjuti dalam ruang daring, luring (offline) dalam aplikasi mereka. Bagus juga bila tersedia jalur berpelayanan kedokteran jarak jauh; atau penyediaan pranala untuk memperoleh jasa konsultasi tatap muka (“kopi darat” untuk bisa disebut lebih gaul).

Ruang layanan berbasis teknologi informasi ini akan terus berkembang manakala mereka melihat peluang lebih luas. Mereka dapat terhubung dengan ruang senada yang dibangun oleh kelompok pakar kedokteran di bidang ginjal hipertensi, misalnya, untuk membantu masyarakat yang membutuhkan edukasi sehat ginjal dan bebas tekanan darah tinggi. Ruang layanan dapat juga menyediakan topik spesifik melalui akses untuk menjangkau dan bertemu tim pelayanan penyakit ginjal dan hipertensi. Alih-alih memperoleh akses edukatif di bidang gizi, masyarakat sadar kesehatan ini juga bisa bertemu dengan para pakar kedokteran di bidang urologi yang berkompeten dengan prosedur bedah terkait. Jadi pelanggan aplikasi bisa sampai pada kebutuhan akan kemudahan menjangkau tim transplantasi ginjal di ujung pelayanan terapeutik.

Berbicara tentang contoh layanan transplantasi ginjal yang ditujukan untuk menolong penderita gagal ginjal kronis adalah contoh kondisi layanan yang menguras uang rakyat (tanpa bermaksud nyinyir dan meremehkan penderita dan keluarga). Seperti juga berlimpahnya penyakit-penyakit kronis lain yang sulit disembuhkan, atau bisa diobati dengan biaya tinggi dan bisa melampaui batas kemampuan plafon biaya asuransi negeri yang tersedia. Memang uang rakyat juga yang digunakan untuk rakyat. Namun di dalam jaringan layanan berbasis teknologi itu terkandung muatan-muatan kental edukatif yang di ujung tampak jauh nun di sana akan berbuah penghematan. Ya, penghematan uang rakyat melalui kontribusi adaptif pelayanan kedokteran oleh para dokter yang menjadi mandiri secara ekonomis dan profesional. Mandiri melalui pemanfaatan teknologi informasi. Bagaimana maksudnya?

Penulis tidak menyinggung aspek etika dan disiplin kedokteran yang akan membutuhkan kajian lanjut melalui tanggapan para ahli terkait layanan berbasis teknologi informasi. Peran para dokter yang mau berpandangan mandiri dalam kelompok disiplin sendiri dan bergabung multidisiplin akan berbuah melalui kontribusi pada model layanan kesehatan yang mendukung paradigma sehat untuk semua. Biaya kesehatan melalui UHC (universal health coverage) akan bergeser dari pengobatan berbiaya tinggi, menuju pada kesehatan promotif dan siap menyambut posisi Indonesia sebagai negara yang terbebas dari jeratan ekonomi menengah dalam kategori negara berkembang kelas paling atas; untuk menjadi negara maju. Melalui obrolan personal dengan penulis, Prof. Sjamsuhidajat -pakar kedokteran dan kedokteran bedah yang sangat inspiratif dan dedikatif dalam pengembangan dunia kedokteran Indonesia- menyitir bahwa Indonesia tidak akan mencapai posisi negara maju pada tahun 2035 bila tidak mampu keluar dari jeratan posisi negara berkembang kelas satu itu pada tahun 2025. Paling lambat Indonesia selayaknya bisa menjadi negara maju pada tahun 2045 seperti yang disampaikan oleh Ketua Bappenas, Prof. Bambang Brojonegoro, pada orasi ilmiah di acara Dies Natalia UI pada Sabtu, 2 Februari 2019 di Balairung Universitas Indonesia.

Pola pengembangan praktik kontributif profesi kedokteran di semua bidang lain juga bisa dikembangkan secara inovatif atau bahkan membuahkan sebuah pengembangan yang memiliki kebaruan. Dalam hemat penulis, kunci pola sukses dalam berkontribusi bagi dunia kesehatan melalui pelayanan kedokteran adalah kata lama yang sering tidak dihiraukan: kolaborasi. Kolaborasi juga dapat menjadi kunci pada pengembangan kedai kopi dan warkop di desa-desa. Saya tidak percaya kalau desa-desa itu tidak bisa berkembang melalui aksi masif kolaboratif. Walaupun kemampuan ikut menentukan, namun pintu kolaborasi bisa diketuk dan dibuka melalui kemauan. Kemauan untuk maju bersama dan tidak maju hanya secara perorangan dan kelompok kecil. Saya percaya Anda langsung bisa membuat deretan dalam daftar pola kolaborasi antara pelaku usaha kedai kopi dengan berbagai potensi sumber daya di berbagai sudut bidang-bidang yang tersedia di desa. Di situ mungkin sudah ada kerajinan tangan, penganan khas, situs sejarah, potensi wisata desa, baik desa pantai, desa pegungungan, desa tepi damai, atau menyesuaikan dengan ritus sosial yang belum terkemas dengan baik. Upaya pembenahan masal pekarangan rumah-rumah desa, pengelolaan keragaman warna-warni dinding dan atap perumahan rakyat seperti sudah dicontohkan beberapa kampung dan desa wisata. Permainan pergaulan sosial kanak-kanak atau tarian remaja yang membutuhkan sentuhan seniman amatir maupun profesional. Melalui karya yang dilandasi pemikiran kolaboratif para pemangku desa dapat mendukung pengembangan usaha bisnis kedai kopi atau warkop sekaligus memanfaatkan dana pengembangan desa yang membangun berbagai sendi kehidupan di desa. Pemikiran kolaboratif ini juga yang menjadi pemacu semua gerak pembangunan seluruh komponen jajaran pembangunan di tingkat departemen di bawah pimpinan para pembantu kepala negara. Tidak ada lagi semangat berkarya yang isolatif. Semua memikirkan bagaimana berkolaborasi agar bisa maju bersama.

Seruput kopi sendirian pada waktu berkhayal berideasi.

Seruput kolaboratif pada waktu merealisasikan ide.

Jakarta, 2 Februari 2019

Oleh:

Teddy O.H. Prasetyono

Praktisi kedokteran dan penikmat kopi hitam tanpa gula

Kepala ICTEC RSCM/FKUI

Rujukan:

  1. Amos Sumbung. Mengenal kopi Papua. Diunduh dari tautan https://www.kompasiana.com/sumbung/56c743f2349773080ad25e0a/mengenal-kopi-papua

  2. Indonesia Kaya. Kopi rarobang: minuman khas daerah yang tidak punya hasil kopi. Diunduh daritautan https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kopi-rarobang-minuman-khas-daerah-yang-tidak-punya-hasil-kopi

Featured Posts
Posts are coming soon
Stay tuned...
Recent Posts