RENUNGAN PRIBADI AKHIR TAHUN 2018

Saya Berpublikasi Ilmiah?

Ada yang menarik di halaman 17 Kompas cetak hari ini, Jumat 28 Desember 2018. Sebenarnya di era disrupsi yang sudah menggejala dalam satu dekade terakhir di negeri kita, menurut saya apa yang ditulis sudah saya (atau kita, kalau Anda tidak keberatan saya gunakan kata ini) kenali, tetapi sering kali belum saya (kita) selami. Coba saya simak ya....

“Berhenti berinovasi akan membuat usaha mandek. Usaha yang berhenti berinovasi karena merasa puas dengan pencapaiannya, akan tergopoh-gopoh saat sedikit saja terusik. Jika kesadaran untuk berubah segera datang, inovasi yang dilakukan dengan cepat dan tepat akan menyelamatkan usaha itu. Bahkan bisa tumbuh melebihi usaha lama.

Sebaliknya, jika kesadaran untuk harus berinovasi datang terlambat, yang terjadi adalah ketertinggalan jauh. Bukan hanya tertinggal dari pelaku usaha baru, melainkan juga tertinggal dari pelaku usaha lama yang tak henti berkreasi.”

Dua paragraf di atas sebenarnya tidak hanya berlaku untuk dunia usaha atau bisnis, melainkan juga untuk pelayanan di bidang kesehatan, dan juga pengembangan profesi saya (kita). Saya tidak melihat makna disrupsi di bidang medis yang justru tidak positif dengan terjadinya aksi atau proses kerusakan, namun kacamata saya arahkan kepada inovasi yang dapat menciptakan nilai, jejaring, atau sistem baru. Inovasi yang membuat kita mampu beradaptasi pada kebutuhan yang menggejala hingga pada tuntutan atau permintaan.

Salah satu yang mencolok adalah ketertinggalan dunia akademis di lingkungan saya yang terus saja tertinggal dan belum mampu melampaui pencapaian umum sesuai standar-standar masyarakat akademis di tingkat dunia. Daftarnya panjang.....bahkan panjaaaaaang sekali. Saya bukan ingin mengolok-olok rumah dan dapur akademis saya sendiri, tetapi saya bermaksud mengolok-olok ketidakmampuan saya untuk bergerak lebih leluasa dalam membawa perubahan yang inovatif. Saya ingin membawa permenungan pribadi saya ke lingkup kecil saja agar tidak dikira mewakili universitas tempat saya bernaung secara representatif. Dan tentu saya tidak layak merepresentasikan negeri saya. Keduanya adalah rumah istimewa saya yang telah membesarkan saya sehingga saya harus menghindari permenungan saya dari upaya merepresentasikan mereka.

Sebelum saya lanjutkan, saya agak curiga dengan penggunaan kata “olok-olok” di era kebebasan bertanggung jawab dalam bermedia sosial. Mohon ijin saya tengok sebentar ya?

Olok-olok sebenarnya adalah bermain-main dengan kata-kata, walaupun bisa dalam nuansa menyindir dan mengejek. Saya sendiri cenderung ingin memanfaatkannya untuk bermain-main, berkelakar dan bersenda gurau dengan diri saya sendiri. Boleh kan ya?

Begini,

Ide untuk menulis buku ajar bidang bedah secara bersama-sama untuk memperbarui buku produksi departemen saya sudah diinisiasi lebih dari 6-7 tahun yang lalu, namun ternyata masih belum menampakkan tanda-tanda akan dimulai gulirannya. Padahal buku yang dilabel buku ajar itu sudah berusia mendekati 3 dekade. Oh….! Anda tidak percaya, bukan? Saya juga tidak!

Inisiasi kala itu bahkan digerakkan bersama oleh pengurus departemen, namun tak kunjung berbentuk. Sssssstttt…..!!! Jujur saja, kontribusi naskah dari para ahli di dalam kantor nol. Sssssstttt…..!!! Saya tidak perlu mengulangnya.

Saya yang menginisiasi membawa beban moral….Saya sendirian menulis....sudah dengan bantuan beberapa asisten…..belum selesai juga.....

Dan kalau saya targetkan selesai setelah mencapai perjalanan 8 tahun, maka saya harus siap menerima badai komentar “kok begini?” dan “kok begitu?” “Siapa kamu?” dan “Siapa dia?” “…kok berani menulis tentang bedah secara umum?”

Proses penulisan berjalan sih....namun lembam. Saya bayangkan…..ya ya ya…..8 tahun adalah petunjuk ketidakmampuan beradaptasi dengan era disrupsi. Dan bila peserta didik membawa buku tulisan para ahli dari luar rumah, mungkin saja tidak akan ada yang berani berkomentar, “buku apa itu?” “buku tulisan dari mana (dan bukan siapa) itu?”

Saya gagal berinovasi cepat untuk menggerakkan pekerjaan kolaboratif!

Begini,

Selama tujuh tahun (2004-2011) saya memimpin jurnal ilmiah milik profesi besar; bergerak, berupaya, berakrobat, merayu, memotivasi, meminta, dan mengemis agar memperoleh dana.....kecil sekali perhatian. Jurnal tetap hidup dari berakrobat. Ya hidup, tetapi redup. Upaya digitalisasi pada waktu itu, di era dekade yang lalu.....hanya tinggal mimpi tak terwujud. Kata orang jerman (jejere kauman), “wong ora ono duwite” (tidak ada uang untuk membiayainya). Upaya menggali naskah dari 2000-an anggota perhimpunan profesi ternyata berujung pada hasil yang tidak setara dengan perhatian pendanaan. Mengapa? Karena hasilnya bukan hanya kecil, tetapi super kecil jika dibandingkan dengan potensi kuantitas profesi. Itu pun belum disertai dengan memasukkan jumlah residen yang sedang belajar. Tak berdaya….. Entah bagaimana pula nasib jurnal kebanggaan profesi saya di masa yang lalu itu. Mungkin saja ia hanya sebuah potret jurnal profesi yang tidak mampu bersaing di tangan pengelola yang tidak mampu berinovasi. Dan saya ada di balik kemudinya. Dan saya tidak dapat berpenelitian bersama untuk menulis bersama agar beban lebih ringan. Dan waktu berlalu……

Sekian tahun kemudian harapan baik saya untuk jurnal tersebut belum terwujud. Saya mencoba mencarinya dan tak mampu menemukannya. Lamannya kosong.

Saya gagal berinovasi cepat untuk menggerakkan pekerjaan kolaboratif!

Begini,

Perjalanan waktu memberi pengalaman kepada saya bahwa saya adalah bagian kelompok profesi yang lembam dalam berkarya tulis ilmiah. Saya maklum. Namun saya selayaknya keluar dari kungkungan kelembaman bawaan orok. Ya; perlu melompat dan berlari lebih cepat dengan tidak perlu membuat jurnal sendiri yang hidupnya terseok-seok dan pada akhirnya tidak mampu memperkenalkan karya ilmiah saya (atau kita) kepada dunia. Saya sudah mencobanya di masa yang lalu, jurnal baru di kala itu.

Garapan ladang tulisan ilmiah tentu bisa diurus berfokus pada rumah kecil profesi khusus yang saya geluti. Setiap residen dan staf pendidik (atau pendidik klinis/ DPJP, dokter penanggung jawab pasien) memiliki kewajiban untuk berpenelitian. Dalam hal kuantitas lumayan lah bila dibandingkan dengan kecilnya jumlah kami. Inovasi dibangun.....ya dibangun dengan membangun rumah (jurnal) baru. Pakai payung dari luar. Tulus sekaligus bersemangat. Produk karya ilmiah di kantor kecil saya dibedoldesakan untuk ditandangkan ke rumah (jurnal) baru. Dan tentu saja memerlukan perjuangan panjang. Ya benar, panjaaaang sekali di depan mata. Panjaaaang sekali berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya yang terlahir dari ibu kandung profesi yang lembam berkarya tulis untuk berpublikasi. Saya berdoa baik, semoga inovasi terus terbangun dalam rumah baru itu agar dapat terpelihara dengan baik dan mendapatkan tempatnya sebagai rumah publikasi di tingkat internasional. Benar, di era sekarang kita tidak dapat mengandalkan rumah publikasi ilmiah profesi yang beranggotakan sejumlah gurem ahli ini hanya di tingkat nasional. Semoga saya tidak keliru.

Di luar rumah nasional yang sudah dibangun itu, saya (atau kita) perlu langsung bertandang ke rumah-rumah (jurnal-jurnal) internasional seperti yang lazim dilakukan oleh para ilmuwan dan profesional penuh karya dan inovasi. Bertandang itu bukan hanya membacanya, melainkan berpublikasi. Saya bergerak.....saya bertandang.....tetapi kunjungan saya tidak berkereta. Hanya dalam kelompok kecil, bahkan cenderung terlihat solo, dan menuai olok-olok “solois.” Oh a la (jangan keliru baca dengan merek barang ya)….Tak apalah….. Toh masih ada asa untuk membangun gerbong kereta agar bisa bertandang ke rumah (jurnal) internasional.

Di dalam kelompok profesi yang keahliannya lebih sedikit lagi, saya mengedarkan undangan. Bukan undangan makan-makan, melainkan undangan untuk bertelekonferensi, Undangan untuk menggali ide beramai-ramai. Undangan untuk berdiskusi. Undangan untuk menggali potensi berpenelitian bersama. Undangan untuk mencari kesamaan sumber daya. Undangan untuk bergerak bersama melalui beberapa ide berinovasi. Undangan untuk menulis bersama. Undangan untuk berpublikasi bersama-sama. Aha! Saya percaya, akan ada sambutan. Mungkin belum sekarang, melainkan esok. Tetapi kapan ya? Ah…..era disrupsi ini toh berjalan lambat-lambat, mendayu-dayu.

Saya melihat harapan untuk berinovasi cepat dengan menggerakkan pekerjaan kolaboratif! Lumayan bukan? Saya sudah melihat.

Begini,

Bidang pelayanan profesi kedokteran sudah dikenali memiliki kecenderungan tumpang tindih. Sebenarnya hal ini tidaklah terlampau mengejutkan bagi saya karena pada dasarnya ia juga berasal dari pelayanan umum yang tidak memisah-misahkan diri berdasarkan bidang-bidang keahlian. Duluuuuuuu…….! Apalagi kalau saya tengok bagaimana sejarah pelayanan bedah, khususnya bedah di negeri saya. Eh…..ngomong-ngomong saya merenung sesaat….

Sepertinya saya sudah sesat di jalan nih …… karena judul permenungan saya tidak perlu menjarah area yang masih alergi dengan kolaborasi ini.

Begini,

Saya harus berhenti sampai di sini.

Saya ingin menyimak permenungan banyak ahli lain.

Selamat berkaleidoskop

Selamat bertahun baru

Selamat beresolusi

Selamat berharapan baru

Jakarta, 28 Desember 2018

Teddy O.H. Prasetyono

Featured Posts
Posts are coming soon
Stay tuned...
Recent Posts